menyusuri lautan makna

April 7, 2007

filsafat kopi

Filed under: notes — eka1 @ 9:52 am

Filsafat kopi, DSMalam memuram. Diammu menginfeksi udara dan membuat dunia sungkan bersuara. Dunia 4×6 meter tempat kita duduk berdua.Lenganmu kutarik menjauh untuk merengkuh dirimu sendiri. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku akan selalu mengerti dan mencoba tuk slalu mengerti. Duka membuatmu demam, dibuka kedinginan tapi dibungkus dua pasang lengan bikin kamu keringatan. Bukan berarti saya tidak butuh kamu, dulu sekali kamu memperingatkan.Aku mengerti. Kesedihan selalu membawamu pulang ke rahim ibumu tempat engaku meringkuk nyaman sendirian padahal tidak.Ada dunia di sekelilingmu. Ada aku di sampingmu. Tapi kamu mendamba rasa`sendiri itu.Diammu memapahku ke ujung pertahanan. Dan akhirnya kutersedak oleh hampa. Tak satupun boleh menodai diammu. Telan nafas itu. Bungkus dan simpan di kantong untuk dilarutkan di sungai.Bagaiman mungkin kamu jadikan dirimu sangkar bagi perasaan? Bukankah perasaanlah kandangnya jasad ini? Dalam diammu, aku mendengar banyak suara. Diammu berkata-kata.Tangisanmu yang tak terlihat merobek ruang dan waktu dan menghampiriku dengan caranya sendiri. Mari kususutkan air mata itu, kukecup keningmu halus, dan kutidurkan kepalamu…mari…Kau dan aku menghembuskan nafas.Tak lagi pengap. Tidak ada yang bergerak. Namun diam itu telah runtuh oleh diam 

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: