menyusuri lautan makna

April 24, 2007

munir versus para pria

Filed under: kisah — eka1 @ 11:19 am

munir?? nama yang seringkali kita dengar karena kematiannya yang misterius… entah mengapa, aku termasuk salah satu orang yang mengaguminya… mungkin karena keberaniannya dan cara pandanganya… tak banyak pria yang berpikiran seperti dia… aku suka cara berpikirnya.. itulah sebabnya.. ketika aku kenal dengan beberapa pria.. yang seringkali kunilai adal;ah caranya berbicara dan cara pandangnya..yah, tak kutampik jika penampilan pun juga trut mempengaruhi.. tapi yang jelas aku tidak suka pria yang belum punya pendirian. yang masih menla-mencle…tapi.. bukankah pria yang tidak mencla-mencle itu, pastilah pria2 dewasa?? lantas otomatis itu sama saja berarti…pri2 tersebut pastilah pri2 yang usianya jauh di atas umurku… jujur saja… aku sulit sekali berkomunikasi dengan mereka yang masih abg… yah kalau buat having fun sihhh ok2 saja… tapi kalo diajak memandang jauh ke depan… ternyata setelah disaring2 mereka yang dewasalah yang lebih kuhormati…

nah, kembali ke munir… apa hubungannya antara apa yang kubicarakan barusan dengan dia??? well,  aku melihat pria munir ini penuh kontroversi, bayangkan saja kematiannya sampai detik ini masih misteri…sebegitu hebatnya dia sampai2 pembunuhan yang dilakukan kepadanya adalah pembunuhan tingkat tinggi, yang sulit dilacak, dan dilakukan oleh mereka yang punya jaringan..keberadaan munir pastilah dianggap sang musuh ini sebagai ancaman, kalau tidak, mengapa dia harus meregang nyawa, justru pada saat ia sedang tidak menginjak kakinya di tanah air… kematian yang penuh misterii..

ah, munir… kehebatan dan tragisnya kematianmu membuat seorang iwan fals menorehkan lirik lagu “pulanglah” untukmu..

selamat jalan pahlawanku, pejuang yang dermawan, kau pergi saat dibuthkan, saat dibutuhkan. Keberanianmu mengilhami jutaan hati. Kecerdasan dan kesederhanaanmu jadi impian. Pergilah, pergi dengan ceria..sebab kau tak sia2..tak sia2

eka

Advertisements

April 18, 2007

Competence versus Performance in language

Filed under: ilmu — eka1 @ 10:10 am

   

When we communicate with each other, we use a language. We have already known that language is a means of our communication. So, language has a main role in our daily communication and using language, it is easy for us to be understood in communication, that is why we should have a good communicative competence.

It means that how we can apply the grammatical aspect, and the most important is how we can use the language in certain contexts. Communicative competence includes the knowledge about the grammatical aspect, linguistics competence, as well as how we use this knowledge of grammar in our actual speech comprehension (linguistics performance).

There are things to be remained related with the definition and the relationship between competence and performance in our communicative competence.

Competence means the knowledge of a language system. It refers to our ability to make sentences and to understand it. It also includes our knowledge of  what belongs to sentences and what does not in a language. For example, an English native speaker might know the concept and the meaning oh sentence: “I go to school every day” but they would not accept if the sentence becomes “ I go to school yesterday”, even it is still in English sentence but is unacceptable.

Performance means what we do with our knowledge of certain language. It is about how we, as a language user, can apply the language in actual use. Performance also means our actual use of language.

Linguistic performance may indicate our competence. It means we can see the difference between linguistic competence and linguistic performance. For example, we may have the competence to create long sentence in our competence, but when we use our performance, sometimes we elicit some words to pronounce, may be because we forget, or we know consciously if we delete the word. Perhaps we forget what we are going to say or even we have the slip of tounge.

Communicative competence is really related to our linguistic competence and performance. Briefly, communicative competence will depend on our competence and performance. Competence can give good effect to us in creating our linguistic performance. About, performance does not guarantee whether our  competence good or bad. Sometimes we make errors or even mistake to do our competence and performance.

 

arbitrariness of language

Filed under: ilmu — eka1 @ 10:07 am

1. The Arbitrariness of Language

           

Knowing a language means being able to speak and to be understood by other people who know that language. Language distinguishes us from other animals in what ways. It means knowing a language makes one a human. According to our definition that language is an arbitrary system of vocal symbols by means of which people of e certain community can cooperate an interact. In this case, knowing a language also means knowing what sounds are in that language and what sound are not.

Knowing the sounds and sounds patterns in one’s language constitutes just part of our linguistic knowledge. It means that knowing a language is knowing the certain sound or sound sequences signify or represent different concepts or meaning. When we do not know a language, the sounds spoken to us in this foreign tongue mean nothing. This happens because the relationship between speech sounds and the meanings represented is an arbitrary relationship (there is no relationship between the sounds and the meaning or in other words, we know that there is no logical and rational relationship between the two).

 

For example:    Ball (in English) and bola (Bahasa)          

For people who have already seen what a ball looks like, the icon of a ball does not have an arbitrary relation with its meaning ‘ball’. On the contrary, for people who have never seen what a ball looks like, the icon of a ball would have an arbitrary relation with its meaning ‘ball’. So, the basic principle of the arbitrariness of the sign in the example is there is no specific reason why a particular sign should be attached to a particular concept..

Linguists say that language is arbitrary in the sense that meaning emerges, not from anything logically inherent in words or their arrangement, but from the specific conventions and expectations shared by members of a given speech community, conventions and expectations that can and do change dramatically from time to time and place to place (Streeter, 2007:1).

Actually, every languages are arbitrary but it does not mean that the language is unpredictable, but it means that we cannot predict exactly which specific features that we can find in a language. There is impossible to predict exactly which sounds will occur. Each language has its own system that differentiates the sounds and the meaning.

 

April 17, 2007

dia datang lagi

Filed under: intermezo — eka1 @ 10:54 am

mengajukan lagi pertanyaan2 yang pernah dia tanyakan dulu padaku

meminta lagi janji2 yang pernah kuucapkan dulu

mengajak lagi untuk meikirkan hal2 yang sudah kulupakan

dia datang tiba2…tanpa isyarat dan tanda2

aku tidak tahu mengapa dia datang…

yang pasti aku tak suka kedatangannya

April 9, 2007

Book store

Filed under: kisah — eka1 @ 1:17 pm

Well, sudah beberapa minggu ini puln mengotak-atik internet..tidak ada ketertarikan sm sekali, kalaupun harus berinteraksi dengan internet, itu lantaran tugas yang harus kukerjakan…paling aku cek email, fs atau Ym..itupun sambil lalu…sebentar sekali

Akhir2 ini sudah beberapa minggu, aku sering sekali dan lebih memilih ke toko buku…tepatnya toko buku kharisma…entahlah, aku merasakan suasana yang berbeda pada saat aku berada di toko buku lain..Sebenarnya bacaan yah itu2 saja..namun tampaknya mataku lebih awas dalam melihat buku2 yang menarik hatiku..dan tambahan lagi ketika aku disana aku merasa senang sekali. Meski aku pergi sendiri, tapi itu tidak lantas membuatku mengurungkan niat untuk tetap pergi kesana meskipun jauh…ada tiga toko buku kharisma di kotaku..tempat yang sering kudatangi baru dua..mungkin akan segera kudatangi yang satu lagi..


Ada satu hal yang membuatku merasa betah disana..aku merasa seperti sedang pergi berpetualang..bukan karena buku2nya, tapi karena suasananya..nikmat sekali.. sampai2 aku bela2in pergi kesana ditengah kesibukanku yang cukup menyita waktu..yah barang sejam pun tak kulewatkan..biasanya aku kesana setiap rabu, kamis kalo tidak yah sabtu..tapi sudah menjadi agenda rutinku pergi kesana 1 minggu mnimal sekali…tempatnya jauh lebih kecil dari toko besar di kotaku tapi aku lebih memilih untuk membaca buku disana, dan terkadang aku juga membeli walaupun tidak banyak..bahakan seringkali yang kubeli bukan buku, melainkan alat2 tulis biasa..

 

8 April, pukul 22.10 WIB

Korean song, classic song, kitaro and piano….

Filed under: kisah — eka1 @ 1:16 pm

Dah beberapa minggu ini semua isi mp3 ku tak satupun yang memiliki lirik, semua hanya lagu2 instrumentalia, lagu2 klasik, ataupun lantunan orkestra atau lantunan piano…dan sebagai pengecualian lagu2 korea yang aku sendiri sampe sekarang tidak tahu akan artinya…Entah, aku sudah hampir beberapa minggu ini suka dengan lagu2 tak bersyair atau lagu2 yang sama sekali tidak kumengerti artinya…kurasakan ketika mendengar lagu2 sperti itu, aku tidak punya beban untuk memikirkan makna dari lirik tersebut.karena yang kudengar hanya alunan musiknya saja…asyik sekali aku dengan alunan lagu tersebut…

Ah, terima kasih lagu, mungkin berkat kau, aku benar2 sama sekali tidak merasakan beban akan semua hal yang terasa menghimpitku selama ini..aku masih bisa sambil beraktifitas, sambil mengetik,membuat tugas atau bahkan sambil mengajar dan menderngarkanmu..(karena di salah satu tempatku mngajar, kami dibolehkan memutarkan lagu2 lewat sound speaker di tiap kelas)…tampknya lagu2 seperti inilah yang sedang kubutuhkan.Betapa bodohnya aku tak menyadari hal itu selama ini..ternyata mendengarkan lagu yang berbahasa planet dan tak berlirik itu jauh lebih menyenangkan, jauh lebih indah dibanding yang lagu2 yang aku mengerti…

 

Kota P, 8 April 2007 pukul 21.52

 

April 7, 2007

filsafat kopi

Filed under: notes — eka1 @ 9:52 am

Filsafat kopi, DSMalam memuram. Diammu menginfeksi udara dan membuat dunia sungkan bersuara. Dunia 4×6 meter tempat kita duduk berdua.Lenganmu kutarik menjauh untuk merengkuh dirimu sendiri. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku akan selalu mengerti dan mencoba tuk slalu mengerti. Duka membuatmu demam, dibuka kedinginan tapi dibungkus dua pasang lengan bikin kamu keringatan. Bukan berarti saya tidak butuh kamu, dulu sekali kamu memperingatkan.Aku mengerti. Kesedihan selalu membawamu pulang ke rahim ibumu tempat engaku meringkuk nyaman sendirian padahal tidak.Ada dunia di sekelilingmu. Ada aku di sampingmu. Tapi kamu mendamba rasa`sendiri itu.Diammu memapahku ke ujung pertahanan. Dan akhirnya kutersedak oleh hampa. Tak satupun boleh menodai diammu. Telan nafas itu. Bungkus dan simpan di kantong untuk dilarutkan di sungai.Bagaiman mungkin kamu jadikan dirimu sangkar bagi perasaan? Bukankah perasaanlah kandangnya jasad ini? Dalam diammu, aku mendengar banyak suara. Diammu berkata-kata.Tangisanmu yang tak terlihat merobek ruang dan waktu dan menghampiriku dengan caranya sendiri. Mari kususutkan air mata itu, kukecup keningmu halus, dan kutidurkan kepalamu…mari…Kau dan aku menghembuskan nafas.Tak lagi pengap. Tidak ada yang bergerak. Namun diam itu telah runtuh oleh diam 

from the past

Filed under: dulu — eka1 @ 9:50 am

Sebuah pernyataan ekslusif tentang Pergolakan pemikiran barisan

 

Pertama-tama semoga tulisanku ini tidak termasuk kategori sara atau hendak menghancurkan ideologi bathil yang sedang ada sekarang. Ini hanyalah sekedar sudut pandang dari pengalaman yang pernah saya alami.

Pada tahun 1997-98 saya tercatat sebagai mahasiswa  di sebuah perguruan tinggi negeri di
bandung atau lebih tepatnya di jatinangor. Saat itu jiwa saya yang berdarah muda tengah bergejolak ingin mencari sesuatu yang baru. Yang saya tidak pernah lupa adalah waktu itu
indonesia sedang bergolak menginginkan rezim  suharo turun.

Beberapa bulan setelah menjalani kuliah, tiba-tiba ada seorang teman yang mengundang menghadiri diskusi di mesjid tempat dia aktif selama itu. Saya bersama dua orang teman lainnya (saya, FS, OC) akhirnya menghadiri pertemuan tersebut. Pertemuan itulah yang membuat kami mengetahui beberapa konsep tentang islam yang mereka sodorkan.agak berat memang waktu itu untuk memahaminya. Keesokan harinya, diskusi dilanjutkan kembali, kali ini langsung denga narasumbernya. Entah apa yang membuat mereka tertarik dengan kami, dan entah juga kami pun mau terlibat…Singkat cerita kami aktif dalam kegiatan mesjid tersebut, dan akhirnya kami tahu bahwa kami tengah direkrut untuk menjadi aktifis dakwah yang mengibarkan panji khilafah islamiyah…hari2 berlanjut, belum ada gesekan pemikiran yang berarti, kami semakin banyak mengetahui konsep2 berat yang sebenarnya terlalu berat buat kami, namun entah tetap kami lahap..

Ternyata antara aktifis mesjid kampus dan mushola fakultas berbeda, mesjid kampus dikuasai aktifis hizbut tahrir sedangkan mushola dan fakultas didominasi anak2 IM, berhubung kami juga aktif di senat fakultas, mau tidak mau kami juga turut andil dalam aktifitas mentoring, akhirnya kami mengalami dualisme…terkadang kami aktif di HT terkadang kami aktif di IM. Namun kala itu kami belum bisa dikatakan anggota aktif, karena cara berpakaian kami yang masih biasa saja..namun kami sudah diberi kepercayaan untuk menjadi pementor para mahasiswa baru (lucu juga…kami yang masih polos dan belum tau banyak, sudah jadi pementor)

Suatu ketika, kami berkenalan dengan seorang yang belum berjilbab, murid mentorku,singkatnya lewat aku, para teman2ku kenal si akhwat ini inisialnya DS, rumahnya di majalaya..jauh..ternyata ayah beserta saudara2nya adalah aktifis JT…namun, yang menyebabkan dia memakai jilbab bukan lantaran anjuran ayahnya, tapi karena kesadaran dia sendiri…(selanjutnya nanti dia memutuskan untuk berjlbab dan akhirnya bercadar, dia berpindah mengikuti kami, kemudian kembali ke jt dan akhirnya akhirnya pindah ke sf)

Di tengah aktifitas kami itu pula, mendadak kami didekati oleh seorang teman bernama E, asalnya cianjur, kali ini dia mengajukan sebuah konsep yang agak sedikit berbeda..yaitu lebih ke masalah penegakan hukum, serta batasan haq dan bathil…saat itu kami mulai bingung, kami mulai diajukan pilihan oleh berbagai pihak yang menawarkan…belum lagi setelah kami berkutat dengan aktifitas di ht, im, kemudian kenal jt dan di-tii yang dibawa oleh teman saya E tersebut…kami juga dikenalkan dengan sebuah konsep laen yang lebih bersifat rohani dan keekslusifan yaitu Salafi, yang sering kami temui dan kmi berdiskusi dengan mereka di mesjid STPDN setelah pengajian akbar mereka..kami bingung…benar2 kami dihimpit dan didesak oleh mereka yang mengajak kami…akhirnya kami memang harus memilih…saat itu sempat kami jalani semua ajakan tema2 di beberapa barisan itu secara bersamaan…lambat laun mulai muncul ketidaksukaan para perekrut tersebut melihat sikap kami yang mencla-mencle…dan akhirnya kami terdampar dan bertasbih dalam barisan yang disodorkan E…barisan ini menamakan dirinya harakah islamiyah…padahal banyak jga yang mengaku seperti itu, sifatnya underground…kami merekrut, memberi konsep tapi bukan dengan penculikan ataupun dengan meminta uang atau mencuri uang, bukan itu…namun kami juga tetap aktif di im di kampus

Tak terasa kami aktif sampai tahun 2000…3 tahun sudah, buku2, konsep yang kiri, kanan,tengah hampir semua kami lahap sebagai bahan ilmu buat kami…ayat2 surat2…

Namun, suatu peristiwa terjadi, hal ini terjadi karena kami sempat berkelana mencari yang lain…kami sempat menghadrir beberapa kali pertemuan di yayasan murtadha mutthari milik kang jalal, konsepnya memukau kami…setelah kami melangkah kami mulai dilanda kebingunga.nnn..

Singkat cerita tahun 2001-2002, kami goyang…banyak hal2 yang mulai kami pertanyakan dan kami tak pernah menemukan jawaban yang memuaskan kami waktu itu..(karena tidak mungkin saya ceritakan dengan tulisan, karena terlalu rumit…

Akhirnya kami keluar..keluar dari semuanya…kami bertiga memang benar2 keluar dan tidak memihak barisan mana pun karena menurut kami, hal2 kemarin sudah cukup biarlah kami seperti ini saja , kembali menjadi manusia biasa saja.. entah ini terjadi karena adanya penyusutan keimanan ataukah karena bentrokan2 konsep dan hal2 prinsipil yang seringkali kami tidak puas… entah

Yang jelas kami tidak lagi memakai pakaian dan atribut yang panjang serta gelap dan berlapis..kami kembali seperti awal kami kuliah dulu…

Akhirnya, banyak dari kami yang membubarkan diri….

Banyak yang berlari ke salafi

Banyak yang kembali ke HT


Ada yang kembali ke im dan pks nya


Ada yang lebih senang jamaah tabligh


Ada yang frontal ke nii


Ada yang lebih suka koleksi dan berkiblat ke hidayatullah


Ada yang kembali ke kw


Ada yang lebih memilih syiah sebagai labuhannya


Ada yang lebih senang aktif hmi

Sedangkan kami, kami tidak kemana2 kami Cuma ingin jadi manusia biasa

Karena kami sudah tidak mau lagi bersitegang..bingung…dsb dsb

Kami memahami dan menghormati teman2 yang berada di barisan masing2

Selamat berjuang teman..

Ibaratkan air…dari manapun datangnya, ia akan bermuara ke satu juga..

Namun benarkah demikian?

Selamat berjuang

Dari kami yang tidak lagi menjadi milik kalian

Karena kami berdiri sendiri, tak ada penjelasan mengapa kami lebih memilih jalan ini

Namun kami bahagia akan pilihan kami untuk tidak memilih

Kami sudah bosan dengan pilihan.

 

Dari Kami ber3

 

 

 

March 28, 2007

it’s me

Filed under: mungkin aku — eka1 @ 10:55 am

namaku eka..tidak ada panggilan lain kecuali itu, lahir 18 juli 28 tahun yang lalu di sebuah kota yang dilewati sungai musi dan jembatan ampera..aku tiga bersaudara semua perempuan..ayahku seorang pengajar di sebuah universitas negeri namun sekarang tidak terlalu aktif mengajar setelah serangan stroke yang menimpa memorinya..badannya sehat tidak terlihat seperti orang sakit, namun sekarang dia sudah mulai sedikit pulih dari sakit. aku juga sering melarangnya makan yang memang dilarang karena ayahku senang sekali makan..aku tidak terlalu akrab dengan ayahku, mungkin karena aku jarang di rumah dari kuliah dulu namun kami tetap dekat meski biasa saja layaknya anak-ayah pada umumnya. Ibuku, seorang pendidik di sekolah menengah pertama, dan dia tengah mengemban amanah sebagai pimpinan di sekolah negeri favorit di kotaku,sehingga bisa dibayangkan betapa sibuknya dia dengan target dan tekanan yang harus ia jalani dengan standar sekolah yang banyak sekali dinilai orang keberadaannya. Ibuku berkata mungkin ini adalah tahun terakhir dia akan mengabdi, dia lebih memilih untuk mengabdi sebgai pendidik biasa untuk kedepannya.

Aku tiba di kotaku tahun 2003, setelah lulus kuliah aku langsung disuruh pulang dengan alasan orang tua. akhirnya aku kembali dan mulai mengabdi sebagai tenaga pengajar di beberapa universitas dengan bekal bahasa-bahasa asingku. Sekarang aku kuliah karena tuntutanku sebgai pengajar yang harus berstandar s2, kalau boleh dibilang aku lebih memilih untuk sekolah di jawa..namun dengan beberapa alasan akhirnya aku sekolah disini sambil bekerja. hal ini sangat melelahkan, terkadang ketika tidur rasanya aku berat sekali untuk bangun…rasanya ingin tidak melakukan apa-apa tapi tidak bisa..

tapi setidaknya aku bahagia, aku jalani saja aktifitasku dengan ikhlas, itu yang paling penting, entah aku juga tidak tahu bagaimana ke depannya nanti, aku jalani saja, siapa tahu ada keajaiban datang..mungkin

aku tidak bisa menilai diriku sendiri…

setelah hujan reda

Filed under: kisah — eka1 @ 10:17 am

hujan tlah reda…setelah beberapa lama kotaku tak pernah diguyur hujan…yang sudah lama tak pernah datang..ada kerinduanku akan hujan.akan perasaan damai dikala hujan..dan juga rasa damai yang tak pernah kutemukan di kala terik matahari yang seringkali menyengat diri..hujan begitu lama turun, sampai2 jalanan basah, daunan di jalan pun turun ikut merasakan kegembiraan akan kedatangannya..aku pun tidak bisa kemana-mana untuk melanjutkan perjalananku yang masih jauh….namun kunikmati hujan ini, setidaknya ada waktuku untuk beristirahat sejenak dan merenungi perjalananku..

sekarang hujan tlah reda, pakaianku turut basah, tas dan sepatu serta kacamataku juga..namun aku tetap melanjutkan perjalananku yang masih jauh pada saat hujan tadi mulai agak reda..entah. aku merasa ringan berjalan, menaiki bis kota yang sesak dengan penumpang dan melewati jalanan yang becek…serta peluhku yang sedari tadi belum kuseka dari debu dan percikan air hujan itu..

kini aku masih dalam perjalanan, aku belum pulang, hujan membuatku tak pernah berhenti untuk terus melangkah…

plmbg, pukul 17.25 dan kembali hujan..

eka

Blog at WordPress.com.